Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Dalam Digitalisasi UMKM – AEOmedia

0
23
Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Dalam Digitalisasi UMKM

AEOmedia.com: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Dalam Digitalisasi UMKM, pada kesempatan kali ini AEOmedia akan membahas topik lain yaitu tentang Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Dalam Digitalisasi UMKM, Kami merangkum informasi ini dari beraneka ragam sumber untuk kami sajikan ke pengunjung setia kami.

– – Pandemi Covid-19 memaksa masyarakat untuk beralih ke pemanfaatan digital. Namun, tentunya tidak semua langsung terbiasa dengan peralihan tersebut, khususnya untuk kelompok lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas.

Menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), pada 2018 jumlah lansia mencapai 24,48 juta jiwa. Lalu, menurut data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2019, penyandang disabilitas telah mencapai 8,56 persen dari total penduduk Indonesia atau sekitar 21,84 juta jiwa.

Terdapat juga stigma di masyarakat bahwa penyandang disabilitas tidak memiliki peran penting dalam masyarakat dan melabeli mereka sebagai orang yang harus ditolong dan disayangkan. Sementara lansia, masyarakat percaya bahwa masa produktifnya telah berakhir dan melabeli mereka sebagai ‘tidak relevan’, tidak ada peluang untuk bersaing di era digital ini.

“Tapi masyarakat harus terus bergotong royong. Salah satu hal terbesar yang dapat dipelajari dari pandemi ini adalah bahwa semua memiliki tanggung jawab untuk saling menjaga. Pemerintah dan swasta harus bekerja sama untuk memastikan bahwa setiap orang, terlepas dari kondisinya, benar-benar dapat menikmati manfaat ekonomi digital yang sedang tumbuh,” jelas Neneng Goenadi, Country Managing Director Grab Indonesia kepada Jawa Pos.

Ia juga menjelaskan bahwa soal tidak membeda-bedakan kelompok ini juga tercantum dalam sila kelima Pancasila, yakni Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan semangat gotong royong dan untuk mewujudkan prinsip Pancasila, manfaat digitalisasi harus dinikmati oleh semua orang, tanpa memandang kondisi fisik, latar belakang, dan usia.

Baca :  Bukan Milenial Rebahan, Perempuan 24 Tahun ini Kembangkan Inovasi UMKM - AEOmedia

Oleh karena itu, sebagai perusahaan teknologi yang memiliki pendakatan inklusif, Grab Indonesia pun berkomitmen untuk mendigitalkan komunitas digital paling minim di Indonesia. Grab percaya pada semangat gotong royong, selaras dengan misi GrabForGood untuk memastikan bahwa setiap orang, terlepas dari latar belakang dan kondisi fisik mereka, dapat benar-benar menikmati manfaat ekonomi digital.

“Grab sejak 2020 juga telah mulai menjangkau penjual di pasar tradisional tradisional dengan melakukan onboarding terhadap ribuan penjual di ratusan pasar dalam aplikasi GrabMart. Layanan GrabAssistant juga dapat digunakan untuk berbelanja di lebih dari 7.000 pasar tradisional di ratusan kota,” tambah Neneng.

Dengan melihat fakta bahwa tidak semua UMKM memiliki keterampilan digital yang memadai, pada tahun 2021, Grab bertujuan untuk memastikan bahwa setiap orang dibekali dengan keterampilan dan memiliki akses ke teknologi, untuk dapat berpartisipasi dalam ekonomi digital.

Salah satu upaya pelatihan dan peningkatan kualitas yang dilakukan adalah dengan bermitra bersama Sahabat UMKM untuk mengadakan ‘Grab #TerusUsaha Akselerator’. Pelatihan dan inkubasi selama 2 bulan ini berfokus pada peningkatan kapasitas UMKM termasuk literasi keuangan, pengelolaan media sosial, perencanaan proses bisnis, hukum bisnis, pajak, dan banyak lagi.

Ratusan UMKM telah dilatih dalam program ini yang telah dilaksanakan dalam 2 gelombang sejak tahun 2020. Pada tahun 2021, Grab juga secara khusus menjangkau UMKM dari komunitas marjinal ini, untuk memastikan mereka memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang dengan teknologi.

Baca :  Grab Siapkan Dana Abadi Rp 4 Triliun, Permulaan untuk Tangani Pandemi - AEOmedia
Digitalisasi yang digagas Grab membantu UMKM dalam mengembangkan usahanya.(Foto: GRAB)

Platform yang dapat menjadi ladang usaha, khususnya dua kelompok tersebut adalah melalui aplikasi GrabMerchant. Aplikasi ini merupakan solusi satu atap bagi bisnis kecil untuk mendaftar sebagai merchant GrabFood dan GrabMart. Di dalam aplikasi, mereka juga dapat berbelanja bahan mentah, membuat iklan untuk mempromosikan bisnis mereka, mengelola kasir dan profil manajer toko, dan juga menerima laporan penjualan.

Grab pun turut memperluas aplikasi GrabKios untuk perorangan, di mana sekarang siapa saja dapat mendaftar menjadi agen perorangan GrabKios, menawarkan layanan keuangan dan digital kepada pelanggan termasuk transfer uang, pembayaran listrik dan BPJS dan banyak lagi.

Menghadirkan platform yang inklusif bagi siapa saja
Grab juga bekerjasama dengan Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Asosiasi Indonesia untuk Kesejahteraan Tunarungu (Gerkatin), Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo) dan komunitas Koneksi Inklusif Indonesia (Konekin) terkait dengan pembenahan khusus bagi penyandang disabilitas.

Hal yang dilakukan adalah dengan menambahkan subtitle ke materi video aplikasi atau orientasi untuk membantu mitra pengemudi tunarungu selama proses ini. Kemudian, meningkatkan proses GrabKios untuk menyambut lebih banyak anggota penyandang disabilitas agar memiliki peluang penghasilan tambahan sebagai mitra agen.

Cahyo Widodo, penyandang disabilitas yang memiliki keterbatasan membangun gerai konter Vanessa Cell 2001 sebagai sumber mata pencaharian sehari-harinya. Pada 2017, ia memanfaatkan teknologi dan bergabung dengan platform digital GrabKios untuk meningkatkan usaha yang dijalankannya.(Foto: GRAB)

Lalu, memberikan pelatihan peningkatan keterampilan dengan fokus pada penggunaan platform berbasis chat dan platform digital sebagai sumber pendapatan bagi penyandang disabilitas.

Baca :  Inisiatif Grab di Tengah Pandemi Agar Para Mitra Tetap Mendapat Income - AEOmedia

Salah satu contoh pelaku usaha disabilitas bernama Cahyo Widodo, sejak 2001 memiliki keterbatasan dan membangun gerai konter Vanessa Cell sebagai sumber mata pencaharian sehari-harinya. Di mana pada 2017, ia memanfaatkan teknologi dan bergabung dengan platform digital GrabKios.

Sejak saat itu, Vanessa Cell berkembang karena dapat melayani transaksi digital seperti transfer uang, pembelian token listrik, hingga pembayaran BPJS bagi para pelanggannya yang sebagian besar belum memiliki akses perbankan.

“Penghasilan meningkat hingga 70 persen per bulan, hingga untuk pertama kalinya bisa membuka rekening bank untuk menabung. Kini saya bisa mandiri dan membuktikan bahwa keterbatasan fisik dan usia bukanlah halangan untuk mandiri dan menafkahi keluarga,” ujar dia dalam keterangannya.

Contoh lain dari Rosdiana Nainggolan, seorang pedagang berusia 60 tahun di sebuah pasar tradisional di Pringgan, Medan. Ia telah menjual produknya di pasar selama 30 tahun, namun penjualannya turun drastis 70 persen menyusul pandemi di Indonesia.

Anaknya lalu menyarankan agar ia mencoba layanan pengiriman on-demand Grab, GrabMart. Grab juga bermitra bersama operator pasar Pasar Jaya di Sumatera Utara dan hal itu pun dimanfaatkan Rosdiana.

“Dengan pesanan yang berdatangan sejak adopsi teknologi, saya bahkan menyewa seorang kerabat untuk membantunya dalam bisnis tersebut,” tutur dia.

Artikel di kutip dari berbagai sumber dan kami rangkum kembali dengan bahasa yang sebaik mungkin. dan jangan lupa share postingan ini ke sosial media kalian.
Repost for: AEOmedia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here