Kepolisian Malaysia Gunakan Drone untuk Deteksi Suhu Tubuh Warga – AEOmedia

  • Whatsapp
Kepolisian Malaysia Gunakan Drone untuk Deteksi Suhu Tubuh Warga

AEOmedia.com: Kepolisian Malaysia Gunakan Drone untuk Deteksi Suhu Tubuh Warga, pada kesempatan kali ini AEOmedia akan membahas topik lain yaitu tentang Kepolisian Malaysia Gunakan Drone untuk Deteksi Suhu Tubuh Warga, Kami merangkum informasi terbaru dari mancanegara ini dari beraneka ragam sumber untuk kami sajikan ke pengunjung setia kami dengan judul Kepolisian Malaysia Gunakan Drone untuk Deteksi Suhu Tubuh Warga.

– Kepolisian wilayah Terengganu, Malaysia, punya anggota baru. Bukan manusia, melainkan drone. Ia ditugaskan untuk mengecek suhu tubuh penduduk di tempat umum. Pihak kepolisian menggunakannya beberapa hari terakhir untuk menegakkan protokol kesehatan.

Read More

Kepala Kepolisian Terengganu Rohaimi Md. Isa mengatakan bahwa pihaknya punya 157 tim monitoring yang bisa pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Meski begitu, pihaknya tidak bisa memonitor setiap lokasi bersamaan. Termasuk mendeteksi individu yang memiliki gejala tertular Covid-19 di tempat umum. Karena itulah, beberapa drone akhirnya dikerahkan.

Baca :  Percepat Vaksinasi, Jepang Bakal Buka Pusat Vaksinasi Masal di Tokyo - AEOmedia

Drone tersebut dilengkapi teknologi pemindai suhu. Ia bisa mendeteksi suhu tubuh sekelompok orang dari ketinggian 20 meter di atas permukaan tanah. Jika mendeteksi ada orang dengan suhu tubuh tinggi, misalnya di atas 37,5 derajat Celsius, drone itu akan memancarkan lampu warna merah. ”Personel kami akan pergi ke lokasi untuk mengidentifikasi individu yang bergejala,” ujar Rohaimi seperti dikutip Bernama, Senin (7/6).

Drone tersebut bukan milik pihak kepolisian. Sebuah perusahaan swasta meminjamkannya untuk membantu polisi memantau kuntara (lockdown). Mereka juga melakukan kunjungan mendadak ke rumah-rumah penduduk untuk memastikan taat aturan.

Malaysia memberlakukan lockdown total pada 1–14 Juni. Langkah itu diharapkan bisa menekan angka penularan dan kematian di tengah serangan gelombang ketiga saat ini. Minggu (6/6) tercatat total ada 616.815 kasus dan 3.378 kematian akibat Covid-19 sejak awal pandemi.

Saat kuntara, penduduk diperbolehkan keluar rumah untuk membeli kebutuhan rumah tangga. Tapi, dibatasi radiusnya dan per rumah tangga dua orang saja. Saat ini angka penularan di Malaysia sudah mulai turun. Meski begitu, kewaspadaan belum bisa dilonggarkan.

Baca :  Negara Cina Uji Vaksin Covid-19 Tahap 3 di UEA

Dirjen Kesehatan Malaysia Noor Hisham Abdullah memperingatkan bahwa sebagian besar infeksi baru dan kematian berasal dari kontak yang tidak diketahui. Sebab, saat ini muncul varian baru yang memiliki tingkat penularan dan kematian yang tinggi. ”Karena itu sebaiknya tinggal di rumah saja,” tuturnya seperti dikutip The Guardian. Jangan keluar jika tidak ada keperluan mendesak.

Nasib serupa dialami Taiwan. Kasus di negara tersebut merangkak naik. Padahal, sebelumnya Taiwan tergolong sebagai negara yang berhasil mengendalikan pandemi. Kemarin pemerintah Taiwan memperpanjang pengetatan hingga 28 Juni. Sekolah-sekolah diliburkan hingga libur musim panas. ”Situasinya masih mengkhawatirkan. Saat ini pandemi belum terkendali,” terang Perdana Menteri Taiwan Su Tseng-chang seperti dikutip Channel News Asia.

Taiwan saat ini berada di level waspada tertinggi kedua. Pekan ini pemerintah akan mulai mendistribusikan 1,24 juta dosis vaksin AstraZeneca yang didonasikan Jepang. Orang yang sakit parah dan penduduk berusia 75 tahun ke atas jadi prioritas. Saat ini baru sekitar 3 persen dari 23,5 juta penduduk Taiwan yang sudah menerima setidaknya satu dosis.

”Kami bukannya telat membeli. Tanda tangan kontrak dilakukan sejak September tahun lalu,” tegas Menteri Kesehatan Taiwan Chen Shih-chung. Yang jadi masalah adalah pengiriman dari pihak pembuat vaksin. Beberapa hari lalu Amerika Serikat (AS) berjanji mendonasikan 750 ribu dosis vaksin ke Taiwan.

Baca :  1 Dokter RSD Wisma Atlet Tangani Pasien di 4 Lantai, TNI: Sudah Biasa - AEOmedia

Sementara itu, seratus mantan presiden, perdana menteri, dan menteri luar negeri mengirimkan surat kepada negara-negara kaya anggota G7. Mereka mendesak agar negara anggota G7 membayar vaksinasi virus Korona global guna membantu menghentikan mutasi virus yang berpeluang kembali menjadi ancaman dunia.

Permintaan tersebut diungkap menjelang KTT G7 di Inggris pada Jumat (11/6). Dalam forum itu Presiden AS Joe Biden rencananya bertemu dengan para pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Kanada, dan Jepang.

”Dukungan dari G7 dan G20 yang memungkinkan vaksin mudah diakses negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah bukanlah amal, tetapi lebih merupakan kepentingan strategis setiap negara,” bunyi penggalan surat tersebut.

Artikel di kutip dari berbagai sumber dan kami rangkum kembali dengan bahasa yang sebaik mungkin. dan jangan lupa share postingan ini ke sosial media kalian.
Repost for: AEOmedia.com

Related posts