Sambiloto dipakai di Thailand untuk obati Covid-19, Indonesia gimana? – AEOmedia

  • Whatsapp
Tanaman Sambiloto. Foto: Ist

AEOmedia.com | Berita Terkini : Sambiloto dipakai di Thailand untuk obati Covid-19, Indonesia gimana?, pada kesempatan kali ini AEOmedia akan membahas topik lain yaitu tentang Sambiloto dipakai di Thailand untuk obati Covid-19, Indonesia gimana?, Kami merangkum portal ini dari beraneka macam sumber untuk kami sajikan ke pengunjung setia kami.

Ekstrak sambiloto atau Andrographis paniculata kini telah digunakan sebagai terapi komplementer untuk pasien Covid-19 gejala ringan di lima rumah sakit milik pemerintah di Thailand.

Sambiloto termasuk herbal asli Indonesia yang telah lama diketahui memiliki khasiat sebagai imunomodulator (stimulasi imun sekaligus antiradang) dan antivirus.

“Pemerintah Thailand setuju penggunaan ekstrak sambiloto karena bermanfaat menurunkan tingkat keparahan wabah (Covid-19) dan memotong biaya pengobatan,” ujar Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia Inggrid Tania seperti disitat dari Tempo, Kamis (22/7/2021).

Menurut Inggrid, hasil-hasil penelitian praklinis dari sambiloto sejalan dengan uji klinis khasiat dan keamanannya yang telah dilakukan terhadap pasien Covid-19 gejala ringan tersebut. Uji klinis yang merupakan penelitian awal di Thailand disebutnya memberi bukti kalau sambiloto aman dikonsumsi dan efektif memperbaiki kondisi pasien yang telah terkonfirmasi positif Covid-19 melalui uji PCR.

“Perbaikan terjadi dalam 3 hari intervensi tanpa efek samping jika sambiloto dikonsumsi pasien dalam 72 jam setelah timbul gejala,” ujar Inggrid.

Sedangkan uji di laboratorium menunjukkan senyawa aktif sambiloto terutama andrographolidae dapat berikatan dengan protein SARS-CoV-2. Melalui serangkaian mekanisme, senyawa mampu menghambat replikasi virus itu dan mengurangi dampak peradangan.

Oleh sebab itu, Inggrid merekomendasikan ekstrak sambiloto yang diproduksi di Indonesia bisa dikonsumsi mereka yang berusia 12 tahun ke atas. Terutama saat jumlah kasus baru infeksi Covid-19 yang sedang melonjak saat ini.

Dosisnya, 2×2 kapsul atau 3×1 kapsul untuk tujuan pencegahan Covid-19. “Dosis 3×2, terutama 5×2 kapsul, untuk terapi komplementer,” ujarnya.

Pada orang dengan gangguan fungsi hati atau ginjal, Inggrid menilai perlu ada penyesuaian dosis secara individual. Rekomendasi tak diberikannya kepada orang dengan autoimun, ibu hamil dan menyusui.

Tanaman Sambiloto. Foto: Ist

Pasien yang mengonsumsi obat penurun gula darah dan/atau tekanan darah juga dimintanya berhati-hati karena sambiloto bersifat menurunkan gula dan tekanan darah.

Pemprov Sumut lakukan uji

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) bersama para ahli kesehatan dan herbal serta fakultas kedokteran dan farmasi dari enam kampus di Kota Medan yaitu USU, UISU, UMSU, Nommensen, Methodis dan Unpri akan meneliti tanaman herbal sambiloto untuk obati Covid-19. Langkah ini diambil karena banyak tanaman obat lokal yang dinilai berkhasiat melawan virus dan meningkatkan imun tubuh.

Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah mengatakan, Covid-19 belum diketahui kapan berakhir sehingga tidak bisa hanya berdiam diri menunggu, harus berbuat sesuatu. Maka dilakukan penelitian tanaman herbal yang dianggap berkhasiat meski membutuhkan penelitian untuk membuktikannya.

“Imun tubuh kita adalah salah satu kunci menghadapi virus, kalau imun kuat, Insya Allah tubuh kita bisa lebih kuat menghadapi penyakit yang disebabkan virus,”kata Musa.

Ketua Sentra Penelitian dan Pengembangan Pengobatan Tradisional (SP3T) Umar Zein mengatakan, ada 30.000 lebih jenis tanaman obat di Indonesia dan sambiloto menjadi salah satu tanaman yang banyak diteliti di berbagai negara seperti Tiongkok dan Thailand.

Menurutnya, ini peluang bagi Sumut yang mendapat dukungan dari wagub Musa untuk dilakukan penelitian. “Secara in vivo dan in vitro maupun uji klinis, tanaman ini bermanfaat sebagai antivirus Covid-19. Tentu kami tidak bisa langsung menerima ini adalah obat Covid-19, kami coba membuktikannya melalui penelitian ilmiah,” kata Umar.

Anggota Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Sumut, dr Restuti Hidayani Saragih mengatakan, keenam universitas antusias untuk berkolaborasi. Ditargetkan penelitian akan selesai paling lambat Desember 2021.

“Kami mohon doa masyarakat Sumut agar apa yang kita rencanakan memiliki dampak besar dalam pengobatan Covid-19,” kata Restuti.

Artikel di kutip dari berbagai sumber dan kami rangkum kembali dengan bahasa yang sebaik mungkin. dan jangan lupa share postingan ini ke sosial media kalian.
Repost for: AEOmedia.com

Related posts