6 Tanda Gejala Gangguan Kepribadian Narsistik dan Penyebabnya

Jeje .NR

Di era informasi yang serba cepat ini, istilah ‘narsistik’ seringkali dianggap sebagai label bagi seseorang yang suka selfie atau terlalu fokus pada diri sendiri. Namun, dalam dunia psikologi, gangguan kepribadian narsistik merupakan sebuah kondisi yang lebih kompleks dan perlu pemahaman mendalam. Artikel ini akan membahas tuntas gejala-gejala gangguan kepribadian narsistik agar Anda dapat lebih memahami dan mengidentifikasinya.

Sebelum kita memulai eksplorasi lebih jauh, mari kita definisikan dulu apa itu gangguan kepribadian narsistik. Gangguan kepribadian narsistik adalah kondisi dimana seseorang memiliki pandangan yang sangat tinggi terhadap diri sendiri, kebutuhan yang mendalam akan perhatian dan pengakuan, serta kurangnya empati terhadap orang lain. Meski tampak percaya diri, banyak dari mereka yang sebenarnya memiliki harga diri yang rapuh.

6 Tanda Gejala Gangguan Kepribadian Narsistik

Ada beberapa gejala utama yang bisa menjadi petunjuk bahwa seseorang mungkin mengalami gangguan kepribadian narsistik:

1. Percaya Diri yang Berlebihan

Salah satu tanda yang paling kentara dari gangguan kepribadian narsistik adalah kepercayaan diri yang melebihi batas. Mereka merasa bahwa mereka adalah yang terbaik, tidak ada yang sebanding dengan mereka, dan seringkali meremehkan orang lain.

Beberapa faktor Penyebab Percaya diri yang berlebihan :

Sukses yang berulang-ulang di masa lalu bisa membuat seseorang merasa bahwa mereka tidak bisa gagal. Mereka mungkin melupakan bahwa setiap situasi adalah unik dan membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Lingkungan yang selalu memujinya dan tidak pernah memberinya kritik konstruktif dapat mempengaruhi persepsi seseorang tentang diri mereka sendiri

Terkadang, percaya diri yang berlebihan bisa menjadi bentuk pertahanan untuk menyembunyikan ketidakpastian atau rasa rendah diri.

2. Obsesi Terhadap Fantasi Kesuksesan dan Kekuasaan

Impian setiap orang tentu berbeda. Namun, bagi mereka yang narsistik, impian-impian mereka cenderung berlebihan. Mereka bermimpi menjadi terkenal, memiliki kekuasaan, atau dikenal sebagai seseorang yang luar biasa dalam hal apapun yang mereka lakukan. Mengapa seseorang bisa terjebak dalam obsesi ini? Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, di antaranya:

Kebutuhan Akan Pengakuan

Dalam masyarakat kontemporer, kesuksesan dan kekuasaan sering kali dianggap sebagai tanda keberhasilan seseorang. Oleh karena itu, banyak yang beranggapan bahwa dengan meraih kesuksesan dan kekuasaan, mereka akan mendapatkan pengakuan dan pujian dari orang lain.

Pengaruh Media dan Budaya Pop

Dengan maraknya tayangan-tayangan yang menampilkan kehidupan mewah dan glamor, banyak orang yang terpengaruh dan mulai membangun citra kesuksesan yang serupa. Hal ini bisa memicu obsesi untuk mengejar kesuksesan dan kekuasaan yang sebenarnya tidak sesuai dengan realita.

Tekanan Lingkungan

Terkadang, lingkungan tempat seseorang berada memberikan tekanan untuk selalu sukses. Hal ini bisa berasal dari keluarga, teman, atau komunitas tertentu.

Pengalaman Masa Lalu

Bagi sebagian orang, masa lalu yang penuh dengan kegagalan atau penolakan bisa menjadi pendorong untuk terus mengejar kesuksesan dan kekuasaan. Mereka ingin membuktikan bahwa mereka mampu dan pantas untuk sukses.

Ketidakpuasan Terhadap Diri Sendiri

Obsesi terhadap fantasi kesuksesan dan kekuasaan bisa muncul dari perasaan tidak puas terhadap diri sendiri. Seseorang mungkin merasa bahwa dengan meraih kesuksesan dan kekuasaan, mereka bisa meningkatkan harga diri mereka.

3. Membutuhkan Pujian Secara Berlebihan

Selanjutnya, orang dengan gangguan ini memiliki kebutuhan yang sangat besar akan pujian. Mereka ingin selalu diakui, diberi perhatian, dan diletakkan di atas podium. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi seseorang hingga ia menjadi sangat bergantung pada pujian:

Rendahnya Harga Diri

Ini mungkin adalah penyebab utama. Seseorang dengan harga diri yang rendah cenderung merasa dirinya tidak cukup baik. Oleh karena itu, pujian dari orang lain menjadi semacam “obat” yang dapat meningkatkan perasaan baik mereka tentang diri mereka sendiri.

Pengalaman Masa Lalu

Lingkungan saat masa kanak-kanak, seperti keluarga atau sekolah, dapat mempengaruhi bagaimana seseorang melihat dirinya. Misalnya, seseorang yang sering mendapatkan kritikan atau selalu dibanding-bandingkan dengan orang lain mungkin akan tumbuh menjadi seseorang yang sangat membutuhkan validasi dari orang lain.

Tekanan Sosial dan Budaya

Dalam masyarakat yang sangat kompetitif dan di mana penampilan menjadi sangat penting, seseorang mungkin merasa perlu mendapatkan pujian untuk menunjukkan bahwa ia “bernilai” atau “diakui” oleh masyarakat.

Ketakutan akan Penolakan

Beberapa orang sangat takut ditolak atau tidak diterima oleh kelompok sosialnya. Pujian menjadi salah satu cara untuk memastikan bahwa mereka “diterima” dan “disukai” oleh orang lain.

Peran Media Sosial

Di era digital saat ini, banyak orang membagikan hampir setiap aspek kehidupannya di media sosial. Like, komentar positif, dan validasi lainnya dari pengikut mereka dapat memberikan dorongan dopamin, yang menjadikannya adiktif.

Baca juga 10 Daftar Obat untuk Anak yang Aman Saat di Rumah

4. Menganggap Diri Lebih Penting

Bagi mereka, dunia seolah-olah berputar mengelilingi mereka. Mereka sulit untuk melihat perspektif orang lain dan cenderung mengabaikan kebutuhan serta perasaan orang lain.

5. Kesulitan dalam Membina Hubungan yang Sehat

Karena sifatnya yang seringkali egois, mereka mungkin kesulitan dalam menjalin hubungan yang sehat, baik itu persahabatan, hubungan keluarga, maupun hubungan asmara.

6. Respons yang Lebih Sensitif terhadap Kritik

Meski tampak kuat, sebenarnya mereka sangat sensitif terhadap kritik. Hal ini dikarenakan harga diri mereka yang rapuh. Mereka mungkin akan merespon dengan marah atau bahkan menjadi depresi ketika mendapat kritik.

Meski penyebab pasti gangguan kepribadian narsistik belum diketahui dengan pasti, banyak ahli yang percaya bahwa kombinasi dari faktor lingkungan, genetika, dan neurobiologi berperan. Hal-hal seperti pendidikan saat kecil, hubungan dengan orangtua, dan faktor genetika bisa meningkatkan risiko seseorang untuk mengembangkan kondisi ini.

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal menunjukkan gejala-gejala gangguan kepribadian narsistik, penting untuk mencari bantuan profesional. Terapi bicara atau konseling bisa sangat membantu. Pengobatan ini bisa membantu seseorang mengenali dan mengubah pola pikir serta perilaku yang tidak sehat.

Gangguan kepribadian narsistik bukan hanya soal suka selfie atau mencari perhatian. Ini adalah kondisi yang serius yang mempengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan dunia di sekitarnya. Dengan memahami gejala dan tanda-tandanya, kita bisa lebih waspada dan memberikan dukungan yang tepat bagi mereka yang membutuhkan.

Artikel Terkait

Leave a Comment